#karantinantb
Sapi Bali dalam bahasa latin disebut bos javanicus domesticus memiliki ciri tubuhnya kecil, tidak berpunuk, tanduk hitam, warna bulu merah bata dan warna bulu jantan lebih gelap. Pada bagian kaki, mulut, pantat, dan perut bawah berwarna putih, seolah memakai kaos kaki. Secara kasat mata ada kesamaan antara Sapi Ras Bali dengan banteng liar, meski dari segi ukurannya lebih kecil. Sapi jenis ini menjadi pilihan ternak unggulan di Indonesia, karena sifatnya yang adaptif dengan lingkungan serta pakan.

Sifatnya yang mudah beradaptasi inilah membuat populasinya di Pulau Sumbawa berkembang pesat, ketersediaan sumber pakan melimpah dari padang rumput yang luas sebagai tempat penggembalaan. Selain itu nilai ekonomis juga menjadi faktor pendorong petani beralih dari Sapi Sumbawa ke sapi ras bali ini, karena sapi jenis ini lebih produktif baik itu dari karkas daging yang dihasilkan maupun peranakan.

Berbagai program Pemerintah Daerah mendukung pengembangan budidaya sapi di Sumbawa, mulai dari "Bumi Sejuta Sapi" pada Tahun 2008, hingga yang terakhir diluncurkan pada akhir tahun lalu "Sumbawa Hijau Lestari" yang mengintegrasikan penghijauan dengan peternakan sapi.

Sapi ras bali menjadi salah satu pilihan yang menjangkau semua kalangan saat hari raya raya kurban. Harga yang terjangkau dibandingkan dengan sapi impor atau jenis sapi lainya, sehingga terjangkau bagi semua kalangan umat muslim yang akan melaksanakan ibadah kurban.

Sapi Ras Bali juga memiliki beberapa keunggulan tulang yang kecil, kulit yang tipis dan daging yang padat dengan sedikit lemak. Persentase karkas atau rasio daging terhadap berat total sapi yang tinggi, yaitu sekitar 52-57%.

Dalam sepekan di awal tahun ini, sebanyak 539 ekor sapi ras Bali asal Sumbawa diberangkatkan ke Jabodetabek. Sapi-sapi ini dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kurban dalam lima bulan ke depan.

Menghadapi lonjakan lalu lintas hewan kurban tahun ini, Karantina NTB mengantisipasi dengan memaksimalkan pengawasan di semua tempat pengeluaraan. Setiap tahapan pemeriksaan dilakukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur(SOP) yang ketat untuk mencegah penyebaran Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK).

Kepala Karantina NTB, Ina Soelistyani, menegaskan sapi yang dilalulintaskan telah melewati serangkaian pemeriksaan kesehatan baik secara fisik maupun laboratoris, sehingga dijamin kesehatannya.

"Berkurban dengan sapi yang sehat, menambah keberkahan dalam beribadah," pungkas Ina.

#laporkarantina
#karantinaindonesia
#berkarib