#karantinantb
Sarang Burung Walet (SBW) atau dikenal dengan Edible Bird's Nest terbentuk dari air liur burung walet yang kering kemudian mengeras. Pertama kali ditemukan pada abad ke tujuh belas oleh Zheng He, seorang pelaut Tiongkok yang terdampar di suatu pulau. Zheng He terpaksa harus memakan sarang burung yang ada di dalam goa karena tidak tersedianya stok makanan.
Permintaan untuk sarang burung walet masih cukup tinggi. Tak heran, komoditas bernilai ekonomi tinggi ini sering disebut dengan Si Emas Putih. Di wilayah penyangga Ibukota, khususnya Tangerang, terdapat tempat pemrosesan SBW yang berstandar ekspor.
"Dilansir tempo.co Sarang burung walet memiliki manfaat untuk kecantikan karena kandungan protein, kolagen, dan Epidermal Growth Factor (EGF) yang membantu regenerasi sel, mencerahkan wajah, melembapkan, serta mengencangkan kulit. Di bidang kesehatan, SBW dimanfaatkan untuk pengobatan Traditional Chinese Medicine (TCM).
Karantina NTB melalui Satpel Pelabuhan Bima telah melalulintaskan 31 kg Sarang Burung Walet yang berasal dari Kota Bima tujuan Kota Tangerang yang nantinya akan diproses lebih lanjut untuk diekspor ke luar negeri setelah memenuhi persyaratan negara tujuan. Berdasarkan data dari Best Trust, sebanyak 45,6 ton SBW asal NTB telah disertifikasi sepanjang tahun 2025 dengan frekuensi 999 kali. Petugas karantina NTB memastikan bahwa Produk hewan tersebut bebas dari Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) sebelum dilalulintaskan.
Kepala Karantina NTB, Ina Soelistyani, menyampaikan bahwa para pelaku usaha wajib melaporkan kepada petugas karantina bila ingin melalulintaskan SBW. Hal ini guna menjaga kualitas komoditas asal NTB sehingga dapat terus bersaing di Pasar lokal hingga kancah Internasional.
#laporkarantina
#karantinaindonesia
#berkarib
Sarang Burung Walet (SBW) atau dikenal dengan Edible Bird's Nest terbentuk dari air liur burung walet yang kering kemudian mengeras. Pertama kali ditemukan pada abad ke tujuh belas oleh Zheng He, seorang pelaut Tiongkok yang terdampar di suatu pulau. Zheng He terpaksa harus memakan sarang burung yang ada di dalam goa karena tidak tersedianya stok makanan.
Permintaan untuk sarang burung walet masih cukup tinggi. Tak heran, komoditas bernilai ekonomi tinggi ini sering disebut dengan Si Emas Putih. Di wilayah penyangga Ibukota, khususnya Tangerang, terdapat tempat pemrosesan SBW yang berstandar ekspor.
"Dilansir tempo.co Sarang burung walet memiliki manfaat untuk kecantikan karena kandungan protein, kolagen, dan Epidermal Growth Factor (EGF) yang membantu regenerasi sel, mencerahkan wajah, melembapkan, serta mengencangkan kulit. Di bidang kesehatan, SBW dimanfaatkan untuk pengobatan Traditional Chinese Medicine (TCM).
Karantina NTB melalui Satpel Pelabuhan Bima telah melalulintaskan 31 kg Sarang Burung Walet yang berasal dari Kota Bima tujuan Kota Tangerang yang nantinya akan diproses lebih lanjut untuk diekspor ke luar negeri setelah memenuhi persyaratan negara tujuan. Berdasarkan data dari Best Trust, sebanyak 45,6 ton SBW asal NTB telah disertifikasi sepanjang tahun 2025 dengan frekuensi 999 kali. Petugas karantina NTB memastikan bahwa Produk hewan tersebut bebas dari Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) sebelum dilalulintaskan.
Kepala Karantina NTB, Ina Soelistyani, menyampaikan bahwa para pelaku usaha wajib melaporkan kepada petugas karantina bila ingin melalulintaskan SBW. Hal ini guna menjaga kualitas komoditas asal NTB sehingga dapat terus bersaing di Pasar lokal hingga kancah Internasional.
#laporkarantina
#karantinaindonesia
#berkarib
Kembali ke Daftar Berita