#karantinantb
Perairan Sumbawa menyimpan keanekaragaman hayati laut yang melimpah dan lestari, mulai dari ikan, lobster, cumi-cumi, rumput laut, kerang, hingga biota laut lainya yang bernilai jual tinggi. Kekayaan ini bukan hanya sumber pangan, tetapi juga aset ekologi yang harus dijaga keseimbangannya. Perlu adanya pengawasan pemanfaatan serta perlindungan dari serangan hama dan penyakit baru agar kekayaan alam ini tetap lestari.
Sektor perikanan dan kelautan memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya dalam penyediaan pangan protein, penyediaan lapangan kerja dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Saat ini, komoditas kelautan dan perikanan juga merupakan komoditas ekspor unggulan NTB. Pada tahun 2025, komoditas ikan dan udang menjadi produk ekspor tertinggi NTB dengan nilai US$ 2,808 juta. Negara tujuan utama ekspor ikan dan udang NTB adalah Amerika Serikat, Chili, dan Taiwan (ntb.bps.go.id).
Mengawali tahun 2026, komoditas perikanan unggulan asal Pulau Sumbawa yang dilalulintaskan melalui Pelabuhan Poto Tano terus menunjukkan potensi luar biasa. Berdasarkan data aplikasi Best-Trust, lima komoditas unggulan berikut menjadi primadona untuk dilalulintaskan, yaitu udang vaname, rajungan rebus, gurita, ikan kerapu, dan sargassum.
Karantina NTB hadir memastikan setiap komoditas perikanan yang dilalulintaskan telah melalui pemeriksaan ketat sesuai peraturan perkarantinaan yang berlaku, baik secara fisik, klinis, maupun laboratoris. Bertujuan untuk menjamin komoditas yang aman dari HPIK (Hama Penyakit Ikan Karantina), kesesuaian jenis (bukan jenis yang dilarang), dan meningkatkan kepercayaan pasar, terutama bagi konsumen ekspor.
Kepala Karantina NTB, Ina Soelistyani, menjelaskan bahwa di balik kekayaan alam ini, ada tantangan yang harus dihadapi yaitu standar keterterimaan pasar yang meningkat serta ancaman hama atau penyakit perikanan baru yang bisa mengganggu kelestarian dan menurunkan hasil panen.
“Menjaga laut dan segala kekayaannya bukan hanya tugas nelayan, tapi tanggung jawab bersama. Terutama bagi kami Petugas Karantina. Karena laut yang sehat, adalah masa depan yang kuat,” pungkas Ina.
#laporkarantina
#karantinaindonesia
#berkarib
Perairan Sumbawa menyimpan keanekaragaman hayati laut yang melimpah dan lestari, mulai dari ikan, lobster, cumi-cumi, rumput laut, kerang, hingga biota laut lainya yang bernilai jual tinggi. Kekayaan ini bukan hanya sumber pangan, tetapi juga aset ekologi yang harus dijaga keseimbangannya. Perlu adanya pengawasan pemanfaatan serta perlindungan dari serangan hama dan penyakit baru agar kekayaan alam ini tetap lestari.
Sektor perikanan dan kelautan memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya dalam penyediaan pangan protein, penyediaan lapangan kerja dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Saat ini, komoditas kelautan dan perikanan juga merupakan komoditas ekspor unggulan NTB. Pada tahun 2025, komoditas ikan dan udang menjadi produk ekspor tertinggi NTB dengan nilai US$ 2,808 juta. Negara tujuan utama ekspor ikan dan udang NTB adalah Amerika Serikat, Chili, dan Taiwan (ntb.bps.go.id).
Mengawali tahun 2026, komoditas perikanan unggulan asal Pulau Sumbawa yang dilalulintaskan melalui Pelabuhan Poto Tano terus menunjukkan potensi luar biasa. Berdasarkan data aplikasi Best-Trust, lima komoditas unggulan berikut menjadi primadona untuk dilalulintaskan, yaitu udang vaname, rajungan rebus, gurita, ikan kerapu, dan sargassum.
Karantina NTB hadir memastikan setiap komoditas perikanan yang dilalulintaskan telah melalui pemeriksaan ketat sesuai peraturan perkarantinaan yang berlaku, baik secara fisik, klinis, maupun laboratoris. Bertujuan untuk menjamin komoditas yang aman dari HPIK (Hama Penyakit Ikan Karantina), kesesuaian jenis (bukan jenis yang dilarang), dan meningkatkan kepercayaan pasar, terutama bagi konsumen ekspor.
Kepala Karantina NTB, Ina Soelistyani, menjelaskan bahwa di balik kekayaan alam ini, ada tantangan yang harus dihadapi yaitu standar keterterimaan pasar yang meningkat serta ancaman hama atau penyakit perikanan baru yang bisa mengganggu kelestarian dan menurunkan hasil panen.
“Menjaga laut dan segala kekayaannya bukan hanya tugas nelayan, tapi tanggung jawab bersama. Terutama bagi kami Petugas Karantina. Karena laut yang sehat, adalah masa depan yang kuat,” pungkas Ina.
#laporkarantina
#karantinaindonesia
#berkarib
Kembali ke Daftar Berita